Komunitas janda gatel pangalengan

“Tolong ambilkan Mbak handuk”, pinta Mbak Limah ketika aku masih termangu-mangu. Kemudian, tanganku terus membuka kancing bajuku satu-persatu. Buah dada yang membusung dihiasi puting kecil dan daerah di bulatan putingnya kemerah-merahan.

Aku menuju ke lemari pakaian lalu mengeluarkan handuk dan kuberikan kepadanya. Tubuhnya berbaring telentang sambil kakinya menyentuh lantai.

komunitas janda gatel pangalengan-79komunitas janda gatel pangalengan-55

Erangan Mbak Limah semakin kuat dan nafasnya pun yang terus mendesah. Kugesek-gesekan kepala penisku di cairan yang membanjir itu. Kedua Kaki Mbak Limah mulai membuka sedikit ketika jariku menyentuh kemaluannya. Kakinya kadang-kadang menjepit kepalaku sedangkan lidahku sibuk mencari tempat-tempat yang bisa mendatangkan kenikmatan baginya. Dia hanya membuka matanya sedikit sambil menarik napas panjang. Lendir dan liurku telah banjir di gerbang vaginanya. Seketika kulihat air berwarna putih keluar dari lubang vaginanya. Rambutku di tarik-tariknya dengan mata terpejam menahan kenikmatan. Usiamo i cookie per personalizzare i contenuti, rivolgere le inserzioni al pubblico giusto e misurarle e per fornire un'esperienza più sicura.

Cliccando o navigando sul sito, acconsenti alla raccolta da parte nostra di informazioni su Facebook e fuori da Facebook tramite i cookie.

“Terima kasih Den Mad”, katanya dan aku cuma mengangguk-angguk saja. Di dalam cahaya remang dan hujan lebat itu, kutatap wajahnya. Daging kenyal yang selama ini terbungkus rapi menghiasi dadanya kuremas perlahan-lahan.

Kasihan Mbak Limah, dia adalah wanita yang paling lemah lembut. Bibirnya senantiasa terukir senyum, walaupun dia tidak tersenyum. Dianggapnya rumah abangku seperti rumah keluarganya sendiri. Dibandingkan dengan kakak iparku, masing-masing ada kelebihannya. Bibirku mengecup puting buah dadanya secara perlahan. Mbak Limah semakin gelisah dan nafasnya sudah tidak teratur lagi. Puting payudaranya yang merekah itu kujilat berulangkali sambil kugigit perlahan-lahan. Lidahku kini bermain di pusar Mbak Limah, sambil tanganku mulai mengusap-usap pahanya.

Kemaluan Mbak Limah sudah sempit lagi setelah 6 tahun tidak disetubuhi, walaupun dia sudah tidak perawan lagi. Denyutan yang semakin keras membuat penisku semakin menegang keras. Kemaluan Mbak Limah semakin keras menjepit penisku. Kugoyang terus hingga tubuh Mbak Limah seperti terguncang-guncang.

Ketika itu seolah-olah aku merasakan ada denyutan yang menandakan air maniku akan keluar. Bersandar pada tubuhku, Mbak Limah lunglai seperti tidak bertenaga. Dalam keadaan sangat menggairahkan, akhirnya aku sampai ke puncak.

Mulutnya meringis seperti orang sedang menggigit tulang. Suatu ketika aku merasakan badan Mbak Limah mengejang dengan mata yang tertutup rapat. Punggungnya terangkat tinggi dan satu keluhan berat keluar dari mulutnya secara pelan.